Tokoh Politik

Salatiga Harus Menjadi Tujuan Wisata

Valentino Tanto Haribowo, M.M. sebagai Kepala Dinas Pariwisata Kota Salatiga bercerita bahwa kota Salatiga sebagai kota tertua kedua di Indonesia. Kota Salatiga tentu memiliki begitu banyak peninggalan-peninggalan yang sekarang menjadi cagar budaya. Peninggalan tersebut seperti Prasasti Plampungan yang merupakan peninggalan Dinasti Syailendra, Benteng Hock yang merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda, dan masih banyak lagi.

Optimalisasi cagar budaya tersebut sedang diupayakan supaya dapat bermanfaat bagi masyarakat kota Salatiga. Dinas Pariwisata memulainya dengan meningkatkan ekonomi kreatif dibidang kuliner, pendidikan berbasis aplikasi, batik khas, dan masih banyak lagi. Hasil dari optimalisasi tersebut membuat delegasi dari kota Salatiga menjuarai berbagai event baik tingkat nasional maupun internasional. Salah satu contohnya adalah Juara Favorit Inovasi Daerah tingakt nasional dan Juara E-Sport tingkat internasional.

Perolehan-perolehan tersebut tentu tidak terlepas dari dukungan penuh dari Kepala Dinas Pariwisata Kota Salatiga. Kadis Pariwisata terus mengupayakan kota Salatiga sebagai kota tujuan wisata bukan lagi kota transit, sehingga kota Salatiga tidak lagi dianggap sebelah mata bagi para wisatawan. Valentino selaku Kadis Pariwisata juga menuturkan bahwa kita terus berusaha untuk terus meningkatkan kota Salatiga menjadi rujukan utama sebagai kota wisata. Beliau juga mengupayakan supaya sinergi antara Academics, Business, Community, Goverment, dan Media atau disingkat ABCGM dapat saling support dan bahu-membahu sehingga terciptanya Salatiga pusat Pariwisata berbasis Cagar Budaya yang kaya akan estetika kuliner pemanja lidah.

Valentino menambahkan bahwa sebagai kota tujuan wisata dan kota nomor satu paling toleran di Indonesia. Kota Salatiga mampu meningkatkan Indeks Pembangunan Masyarakat terbaik di Jawa Tengah serta penurunan angka kemiskinan di Kota Salatiga juga mendapat predikat terbaik di Jawa Tengah.

Cikal bakal lahirnya kota Salatiga tertuang dalam tulisan yang terdapat pada prasasti Plampungan. Prasasti tersebut berisi ketetapan hukum tentang status tanah perdikan atau swatantra bagi suatu daerah yang ketika itu bernama Hampra, yang kini bernama kota Salatiga.

Prasasti Plampungan dibuat pada Jumat, 24 Juli tahun 750 Masehi yang ditulis oleh seorang Citraleka (sekarang disebut dengan sebutan penulis atau pujangga) dengan dibantu oleh sejumlah pendeta atau resi serta ditulis dalam bahasa jawa kuno.

Pemberian perdikan tersebut merupakan hal yang istimewa pada masa itu oleh seorang raja dan tidak setiap daerah kekuasaan bisa dijadikan daerah perdikan. Perdikan berarti suatu daerah dalam kerajaan tertentu yang dibebaskan dari segala kewajiban pembayaran pajak atau upeti karena memiliki kekhususan tertentu. Dasar pemberian daerah perdikan itu karena desa atau daerah tersebut telah benar-benar berjasa kepada seorang raja. Pada masa tersebut kota Salatiga berada dalam kekuasaan Raja Bhanu yang merupakan raja pertama Dinasti Syailendra.

Penetapan di dalam prasasti itu merupakan titik tolak berdirinya daerah Hampra (Salatiga) secara resmi sebagai daerah perdikan. Atas dasar dari cacatan prasasti itulah dan dikuatkan dengan Perda No. 15 tahun 1995, maka ditetapkan sebagai Hari jadi Kota Salatiga yang bertepatan pada tanggal 24 Juli.

Daerah Hampra (Salatiga) pada masa Dinasti Syailendra merupakan kota yang mendapatkan hak istimewa yakni predikan. Hak istimewa tersebut menjadikan daerah Hampra menjadi suatu daerah yang bebas dari pajak. Hal ini menjadikan daerah Hampra menjadi daerah perdagangan yang berkembang cukup signifikan.

Terlepas dari hal tersebut pemerintah yang dipimpin oleh Raja Bhanu dapat mempersatukan antara urusan negara dengan urusan agama. Hal ini menjadikan daerah tersebut sebagai daerah yang toleran sehingga segala aktivitas baik aktivitas keagamaan, kenegaraan, dan perdangaan menjadi kodusif dan aktif.

Era kolonial Belanda sangat meyoroti kota Salatiga sebagai wilayah yang paling strategis. Bukan tanpa alasan, hal tersebut terlihat dari sejarah yang mana salatiga merupakan daerah perdagangan dan daerah yang sangat toleran. Kondisi tersebut sangat dioptimalkan oleh kolonial sehingga kota salatiga menjadi kota perdangangan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *